Selasa, 23 September 2008

Tolak RUU Pornografi

Pro dan kontra mengenai RUU pornografi semakin marak, hal ini dapat terlihat banyaknya elemen- elemen di daerah menyampaikan aspirasi KETIDAKSETUJUAN untuk MENOLAK Rancangan Undang-Undang Pornografi, terang saja membawa wanita muda Dayak satu ini berteriak untuk mengungkapkan MARI TOLAK RUU Pornografi, ditemui senin siang kemarin, tanggal-22-09-2008, tepatnya jam 13.00, di Asrama sekretariat bersama (SEKBER)JC Oevang oeray Yogyakarta,sebut saja Bu lina seorang gadis muda Dayak, disela-sela duduk santai,sambil menungggu rombongan YUK! Yogyakarta Untuk Keberagaman, ia pun mulai berceloteh ceriwis mengenai "TOLAK RUU Pornografi".
Kata pengantar pun membawa segenap situasi berubah dan mengikuti alur,
sedikit terdiam,dan ada yang senyum-senyum, ada juga yang bergaya tanpa menggunakan baju dan celana pendek,lalu teman yang lain berkata dan bersaut-sautan...hey..hey...tangkap...tangkap...itu aksi pornografi, begitulah tiruan saya, terhadap teman tadi. Tak lama kemudian bung bertus pun datang menghampiri saya "Ya lina kita bersama menolak RUU Pornografi itu" sesi pembicaraan pun dimulai dengan santun, O iya mengapa tidak setuju Bung bertus, Bung bertus pun menjawab alasannya, Jika kita menerima RUU ini, maka Kal-bar akan terkena imbasnya,ingat penjelasan definisi-definisi isi pasal yang ada,masih mengandung makna dan tujuan lain, ya itulah tadi sedikit kutipan alasan bung bertus item yang berlagak dengan isapan rokok yang dihisap dan kemudian dihembuskanya,huh...akupun mulai menduga-duga apa makna dan tujuan lain yang tersurat dan tersirat dibalik kata-kata bung bertus tadi ya, akupun mulai menduga-duga apa benar apa salah ya....
Ok akupun mulai dengan pendapatku, ya...ya...ditengah permasalahan yang kompleks, membawaku berpikir kilas balik, Huh...persoalan BLBi saja belum tuntas,apalagi kalau bukan mengenai kucuran dana BI ke sejumlah anggota DPR, eh...eh kok malah bisa-bisanya ada lagi persoalan baru yang telah terkubur 10 tahun yang lalu, dibuat dan dihidupkan kembali, dengan sengaja dan tanpa sengaja, mengalihkan persoalan2x yang lalu,menjadi mungkin-mungkin saja? persoalanya adalah apa mungkin anggota DPR sekarang sedang mencari populeritas menjelang pemilu 2009 ini, atau memang hal tersebut sekenario yang telah direncanakan ya atau..hus...hus..(diam lin, ini bulan puasa lho, ndak baek saling tuduh dan menunding)Ok baiklah saya setuju, O ya tapi mengapa ya pas momentnya dibulan fitrah ini, ketika umat secara khusuk berbondong-bondong melakukan pembenahan diri kepada Sang khalik, untuk memohon, meminta hapuskan segala bendungan dosa-dosa, dalam kubungan pengsucian yang teramat dalam. Lalu mengapa orang-orang malah meributkan masalah RUU pornografi ya?? apa ini yang disebut kado hadiah menyambut Idul fitri, apa mungkin ini ujian terberat pada bulan yang penuh barokah ini.....Opsssss
OK kembali ke nice topic tadi,Opsss..."TOLAK RUU pornografi.com euyyy...Ok mengenai ungkapan bung bertus item.com tadi, saya sedikit menduga-duga jangan-jangan dibalik RUU Pornografi ini terdapat,ada "udang dibalik bakwan" maksudnya apa lin, ya maksudnya tuh? seperti tidak tahu saja he...he...begini,itu lho di dalamnya itu mengandung 'produk politis' bukannya terlihat jelas, adanya pelampiasan sub-sub bidang tertentu yang semua secara tidak sengaja, mau tidak mau menjadikan tameng alasan, sebuah obsesi yang mengarah pada peraturan-peraturan bersifat agamais dan moralitas,lho lin, kita kan negara pluralisme yang berpancasila dan ber-bhinika tunggal ika, lalu kenapa negara ini mau dibuat dikotomi,pengkotak-kotakan mayoritas sub agama tertentu begitu maksudmu?....eit...eit....tunggu dulu ya,apalagi membawa-bawa moralitas? lho inikan sifatnya subjektif ?lalu nanti apa kata dunia? so bukankah hal ini sudah ada sub bidang, disposisi, yang jelas2 sudah ada mengaturnya, lalu kenapa Undang-undang berhak atas segalanya, lalu kerjaan orang-orang yang duduk menjadi Dewan Perwakilan Rakyat yang juga dinotabenekan sebagai para politisi ulung,apa tidak bisa memilah-milah sub-sub bidang yang mengarah pada tatanan yang disposisi yang sesuai dan tepat, dalam hal pembuatan Undang-undang. Kok bisa ya lin.....ya bisa donk.
Ok kembali ke nice topic Penolakan RUU Pornografi pun terus membanjir, tak kala para Anggota Dewan, pansus RUU pornografi, Panja RUU pornografi, sibuk menampakan aksi kepandaianya yang satu tidak mau kalah, dan yang satu lagi tidak mau kalah juga. Namun tetap saja kekeh mempertahankan bahwa RUU Pornografi itu, patut dan patut disahkan...ha...ha...ada-ada saja para dewan itu. Bayangkan saja ditengah-tengah terjadinya pembelaan diri para anggota dewan yang membuat RUU pornografi tersebut,menjadikan para anggota terlihat tidak sadar dan bodoh, bahwa jelas definisi isi dari Undang-undang yang dibuat pasal demi pasal itu, masih saja mengandung multitafsir, bagaimana tidak lin, tau tidak kalau definisi pornografi berbunyi seperti ini pornografi adalah sebagai materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, gambar, kartun, syair, percakapan, ataupun media komunikasi lain yang dapat membangkitkan hasrat seksual, bukankah ini menimbulkan ambiguitas pemahaman, lalu kalau saya mengambar/melukis foto salib Tuhan yesus yang hanya menggunakan kain putih yang menutupi,"MaaF" bagian pinggang dan paha atas serta alat vital seorang laki-laki dan betelanjang dada,Apakah saya salah dan akan ditangkap?lalu,jikalau patung salib Yesus saya,pajangkan didinding sebagai lambang saya sebagai seorang iman katolik, kmudian ada yang melihat dan mengatakan itu ponografi, maka, apakah saya akan ditangkap juga? lalu, jikalau saya yang gemar mengkoleksi foto-foto tokoh Idola seperti madona,jenifer lopez,yang sedang mengenakan baju tipis putih,dimana foto tersebt'agak' menonjolkan lekuk bentuk tubuhnya,ya yang tentunya secara tidak sengaja dan kebetulan teman saya meminjam dan melihat,dipicture handpone saya, maka saya akan salah dan ditangkap juga?benar begitu? lalu, bagaimana nasib patung2x yang ada di Borobudur tample?yang bertelanjang dada itu,lalu bagaimana juga nasib kurikulum ekstarkulikuler renang pada instansi pendidikan,yang mengharuskan siswa-siswinya mengenakan baju renang? apa akan dihapus juga ekstra ini?lalu,bagaimana nasib para penghuni2 keraton yang hanya menggunakan kemban semampai/brokat saja? Nah, kemudian bagaimana juga nasib perempuan-perempuan Dayak, yang notabene hidup bersentuhan dengan alam,hutan,sungai terhadap kecintaan sebuah tradisi mandi disungai, yang seyogyanya hanya menggunakan kemban saja? Lalu bagaimana nasib para seniman senimanwati untuk bisa meng-ekspresikan kreatifitasnya? padahal kita tahu, seniman juga bagian dari masyarakat,dan juga dari para seniman-senimanwatilah,lahir,tumbuh dan terus berkembang para junior penerus bangsa baru, untuk menjadikan para seniman-senimawati senior, sebagai seorang InspiratOr kekal. Lalu, bagaimana juga nasib saudara kita di papua yang identik dengan koteka? lalu bagaimana nasib musik dangdut, yang notabene musik ini diwajibkan dan dilahirkan untuk bergoyang? bukankah musik dangdut, musik pelega beban-beban masyarakat? Oh Tuhan, saya bisa membayangkan musik dangdut,jika tanpa goyangan 'bagai sayur tanpa garam' huh...huh..Lalu,bagaimana caranya agar bisa mengungkapkan sebuah kerinduan teramat dalam pada sang kekasih, ketika satu kecupan melayang manis secara refleks,asertif,spontan diucapkan, yang kira-kira seperti begini penyampaianya,sayang aku tetap sayang padamu..MUah...muach..dan..muach....ya tentunya berkomunikasi melalui via telephone ataupun handpone. Pertanyaan saya, adalah "apakah batasan ini,dapat menjadi kriteria materi seksualitas?"lalu sejauh mana hal tersebut dapat merangsang hasrat seseorang?yang kita tahu bahwa hasrat seseorang tidak dapat diukur? atau mungkin (sedikit mengutip bahasa ibu tiur hutagaol anggota DPR dari fraksi PDS) saya, akan membuka celana dalam seseorang dan lalu melihatnya? apakah orang tersebut terangsang apa tidak? apa begitukah?Oh Tuhan ini sungguh ruang privat, dan ini sifatnya pribadi.
Namun belum juga usai, pasal 8 RUU Pornografi pun mulai beryanyi-yanyi mengema lagi dan lagi,dengan definisi isi ambigu, yuk mari kita intip "Pasal ini menyebutkan bahwa setiap orang dilarang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi obyek atau model yang mengandung pornografi, bukankah isi daripada definisi ini sangat-sangat mencampuri hak pribadi,ditambah lagi tidak bersahabat, dan tidak berempati terhadap kaum perempuan yang menjadi korban industri seksual? ingat ”Perempuan yang menjadi obyek industri seksual adalah korban ketidakmampuan ekonomi, keterbatasan pemahaman, serta terjebak dalam konstruksi budaya patriarki yang kerap kali menjadikan tubuh mereka sebagai komoditas. Karena itu, menghukum mereka sama artinya menjatuhkan hukuman ganda,” ujar Ellin Rozana seorang Direktur Institute Perempuan. Oh Tuhan betul kata Ibu Siti Musda, seorang profesor sekaligus aktivis perempuan, berkata bahwa memang rancangan RUU Pornografi ini, tidak mengenal mana pelaku dan mana korbannya, dan apa betul RUU ini, mewakili perempuan? padahal tetap saja perempuan menjadi sasaran objek. Iya kan bu lina.Lalu, apa tetap bisa dipaksakan moralitas diatur oleh agama?, bukankah agama tidak mengajarkan seperti itu....dan bukankah moralitas dan agama adalah sebuah pilihan...
Demikian, juga pada pasal 21 RUU Pornografi, yang mengatakan bahwa masyarakat dapat berperan serta mencegah penggunaan dan penyebarluasan pornografi. bukankah hal tersebut dapat memicu konflik? sehingga masyarakat dapat bermain hakim sendiri? lalu, bagaimana peranan pihak keamanan yang tentunya wajib dalam meberantas hal tersebut? bukankah ini tugas pak polisi, dimana jelas tertulis pada hukum KUHP pasal 282 tentang kesusilaan? Huh....ribet bo...
Adapun, beberapa himbauan dari ibu lina, Bahwa ada baiknya kita 'Menolak' RUU Pornografi, karena hal tersebut dapat merusak dan memecahbelah keberagaman antar umat sebagai beragama, dan antar umat sebagai rakyat indonesia, dan tampak jelas hal ini, akan membatasi ruang gerak hak privat seseorang, serta ruang gerak terkekang dan terpasungnya sejumlah tanggung jawab beban seseorang atau(keluarga), yang tentunya dalam hal mendidik pembentukan karakter penerus bangsa yang bermartabat,Oleh karena itu ada baiknya selagi dini tempatkanlah peranan-peranan,disposisi-disposisi,sub-sub, pada bagian yang tepat pada ruang porsi dan takaran yang tepat, karena bagian yang tepat akan memperjelas langkah sesuatunya menjadi jelas, seperti ada baiknya dalam hal mengenai pendidikan budi pekerti,dimana terjadi proses pembentukan moralitas yang telah ditanam melalui peranan orang tua dan keluarga,serta adanya penguatan bantuan dan campur tangan dari pihak sekolah. Sehingga kelak proses pembentukan seseorang tidak mangalami kesalahan, Memang sungguh berat tapi inilah tugas dan tantangan bagi kita kedepan, untuk tetap terus bersama-sama menciptakan dan tetap menjaga kebaikan bangsa indonesia menjadi terus beragam.